Assalamu'alaikum, hi there.. sepertinya isi dari blog saya kali ini sedikit agak baper, alias bawa perasaan. Why? Karena Elin sudah tidak lagi menyandang predikat anak mama ataupun anak mahad. mungkin dari sebagian dari kita berpikir, "ah, anak mahad sama anak kos kan sama2 jauh dari orang tua" tunggu dulu kawan, tidak semudah itu kalian menyimpulkan persamaan tersebut. Ketika kalian masuk di dunia kos, kalian akan merasakan dunia tanpa sekat, tanpa tirai dan kalian melihat dengan mata kepala kalian sendiri. Kalian akan memasuki fase dimana kemandirian kalian benar benar dipacu, karena apa? sebagian besar yang kalian lakukan haruslah dengan diri kalian sendiri.
Oke, memasuki hari ke tujuh bulan ramadhan ini rasanya begitu saja terjadi, masih teringat aku semalam berbincang dengan kedua orang tuaku yang menanyakan apakah esok jika aku kembali ke mahad ada kawankah? Makannya masih dijatahkah? Dan beribu pengkhawatiran seorang ibunda terhadap putrinya. Namun, dimanakah saya sekarang? Bukan lagi di zona aman bernama Mahad Al Qalam, melainkan di dunia tanpa batas bernama KOS KOSAN. *deng deng..*
jadi, hari ini saya berniat untuk kembali ke Mahad mencari penghidupan dan tempat tinggal yang layak untuk beberapa hari kedepan sampai pengumuman sbmptn keluar, sembari saya melanjutkan les saya yang banting setir menjadi soshum(ips) untuk tes mandiri di salah satu universitas di Kota Malang. Ya, benaarr.. saya banting setir dari FK menjadi FH. Hehehe.. lucu memang, sedikit tidak percaya. Namun doakan saja yang terbaik.
Lanjut..
Sayangnya, Mahad menerima kedatangan saya hanya sampai pertengahan tanggal 20 (paham?) Karena setelah itu Mahad akan mengadakan renovasi untuk lantai yg saya tempati guna menyambut tahun ajaran baru. Orang tua saya berpikir, supaya tidak dua kali kerja, akhirnya saya dicarikanlah kos kosan yang terdapat di daerah jl.batujajar okelah, untuk dua minggu kedepan berada disini.
kesan? Alhamdulillah kos ini terletak dekat dengan masjid. Namun sayang, ibu kos saya non muslim, yang notabene papa saya kurang menyetujui. Okelahh.. namun inti dari tulisan ini bukan itu, tetapi tangisan saya yang telah saya tahannn setelah saya melaksanakan sholat ashar dan tadarus.
Lucu memang, tapi inilah arti kehilangan, kerinduan sesungguhnya.
saya merindukan lantunan ayat dari masjid depan rumah saya sambil mengiringi sang mentari turun dari singgasana raksasanya,
Saya merindukan aroma rempah hasil tangan mama ketika meracik bumbu opor
Saya merindukan kening yang bersama2 menyentuh lantai dengan bisikan khusyuk menyambut maghrib tiba.
Saya merindukan genggaman tangan seorang ibu menuntun anak gadisnya pergi ke masjid, usapan lembut ayah melihat anak gadisnya tumbuh dewasa ketika langkah kita menuju tempat suci bersama.
Ya,
Saya merindukan itu semua, dan bulir dari kelenjar lakrimalis saya pun bekerja.
Semangat..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar