Malang, 20 Juni 2015
Pikiranku seakan kacau. Migrain yang aku miliki tak ada ampun untuk mencicipi sudut kanan kepala. Meminta untuk mencengkram lebih kuat, lebih dalam. Sensasi ini sudah sering aku rasakan. Terlebih setelah menghadapi soal matematika. Migrain seakan memiliki panggung dan jadwal rutin di kepalaku. Dia datang bukan karena matematika adalah pelajaran yang paling aku tidak kuasai. tidak. aku paling takut akan kimia. Tapi ketakutanku tidak sampai mencengkram satu sisi kepalaku. Santai aku dibuatnya. tidak bisa? tidak suka? ya tinggalkan saja.
Aku merogoh roll aromaterapi di saku depan tas dan langsung mengusapkannya di dalah satu sisi kepala. aroma citrus yang dibuatnya seakan menenangkan kondisi psikis yang telah tebas habis melawan soal matematika. Algoritma? Integral? ah pelajaran cacing cacing itu. sudah, jangan dibahas. semakin mencengkram rasanya. tak kusadari roll aromaterapi sudah menggerayangi seluruh sisi kepala, leher, hingga ujung atas hidung. Salah satu kelebihan hidung pesek adalah memudahkan menggerakkan roll aromaterapi, loh. Hingga tak aku sadari seluruh wajah dan leher terasa panas tapi dingin. wow, sungguh menyakitkan tapi menyenangkan.
Setelah beberapa puluh menit badanku tergeletak di kasur asrama- dengan memakai seragam yang akhirnya kusut- aku merasa migrain sudah kehilangan cengkramannya di sisi kanan kepala. eh? apa kiri? entahlah, yang penting aku sudah sehat kembali. Aku melihat sudah pukul 15.00 dengan kondisi kamar sangat sepi. "sholat jamaah ashar nih" batinku. Karena hari ini aku mendapatkan "tamu"ku, dan ketika semua sedang di masjid, bisa menjadikan waktu yang tepat untuk kabur. IYA. KABUR.
kusegerakan merapikan jilbab di depan cermin dan langsung kuambil tas ranselku. semakin tua aku merasa ganti tas bukan lagi prioritas utama. tidak seperti waktu SD yang harus setiap tahun ganti. entah ganti warna. atau gambar. tas ranselku yang sekarang berukuran besar dan warnanya hitam kelam. hanya sedikit aksen merah darah di resletingnya. setidaknya masih wajar dipakai untuk perempuan.
aku memulai misi operasi kaburku. cukup gampang untuk kabur jika keberuntungan ada di pihakmu. kau hanya perlu melewati dua gerbang dengan satu petugas asrama dan satu petugas satpam disetiap gerbangnya. aku mulai berjalan santai melihat kondisi gerbang. tidak ada tanda-tanda satpam maupun petugas asrama. aman. satu gerbang terdalam telah terbuka namun gerbang terluar masih tertutup tanpa penjaga. aku mulai mendekat ke gerbang luar dan melihat sekekeliling yang begitu sepi. di samping gerbang terluar ini ada pos satpam yang sama sepinya. hanya tv yang menyala tanpa volume. aku memberanikan diri untuk membuka ganggang gerbang terluar. dengan perlahan dan pasti aku membuka dengan diiringi suara nyaring besi yang bergesekan. seperti sudah dibiarkan tidak diberi pelumas, demi memudahkan mengintai siapa saja yang berani masuk dan keluar. krek! oke! aku hanya perlu keluar dari lubang kecil gerbang dan menutup kembali gerbang. sebelum berbalik badan, aku melihat para ustadzah keluar dari masjid dan menuju gerbang. oke! kunci kabur adalah tetap tenang, dan menghilangkan rasa berdosa. walaupun itu dosa. aku membalikkan badan dengan santai dan langsung berbelok ke arah jalan raya. satu langkah, sepuluh langkah, aku berbalik. tidak ada yang mengikuti. misi berhasil !
tempat kabur favoritku adalah sebuah mall yang terletak dua blok dari sekolah berasrama. Mall tersebut cukup besar, namun tidak dengan barang bermerk seperti yang orang tuaku pilih. hanya supermarket dan beberapa kios yang tersebar 3 lantai. tidak ada bioskop, namun ada tempat bermain yang bisa menghabiskan uangmu dalam sekejap. tapi bukan itu tujuanku saat ini. aku mengincar toko buku!
pada saat sulit seperti ini, buku bacaan seperti novel akan menenangkanku sejenak dari ratusan soal yang menghadang untuk kenaikan kelas dan ujian asrama. berbicara tentang buku yang bisa dibaca, genre buku yang aku beli tidak jelas. kadang aku membeli karena warna dari cover, judul yang unik seperti "kambing jantan" ya siapa juga yang perlu tau itu kambing jantan atau betina? tapi kau akan penasaran, bukan? atau karena harganya yang murah dan berakhir dengan isi buku yang penuh dengan konten adegan dewasa yang eksotis.
hmmm banyak hmmm terjadi. jariku menari dan manari, melompat antar satu buku ke buku lainnya, bermanauver ria antar rak buku dan mendarat diantara buku diskon, tidak ingin terjebak dengan buku dewasa, akhirnya melompat kembali di deretan novel remaja. sekarang gerakan jariku kian melambat, menapak satu persatu buku, mencapitnya perlahan, dan mengembalikannya. hingga pada akhirnya, menemukan satu buku dengan cover berwarna hitam gelap, dengan bulan ditengahnya. Ada kata "Amerika" sebuah Negara adidaya yang mendengarkannya saja sudah langsung kagum. oke! dan akhirnya tarian jariku berakhir di dompet dengan lembaran uang disela-sela jemari. cekring!
apa aku membacanya malam ini?
kita lihat saja nanti.




