Senin, 15 Oktober 2018

Mimpi dari Buku Mimpi (part1)

Malang, 20 Juni 2015

Pikiranku seakan kacau. Migrain yang aku miliki tak ada ampun untuk mencicipi sudut kanan kepala. Meminta untuk mencengkram lebih kuat, lebih dalam. Sensasi ini sudah sering aku rasakan. Terlebih setelah menghadapi soal matematika. Migrain seakan memiliki panggung dan jadwal rutin di kepalaku. Dia datang bukan karena matematika adalah pelajaran yang paling aku tidak kuasai. tidak. aku paling takut akan kimia. Tapi ketakutanku tidak sampai mencengkram satu sisi kepalaku. Santai aku dibuatnya. tidak bisa? tidak suka? ya tinggalkan saja.

Aku merogoh roll aromaterapi di saku depan tas dan langsung mengusapkannya di dalah satu sisi kepala. aroma citrus yang dibuatnya seakan menenangkan kondisi psikis yang telah tebas habis melawan soal matematika. Algoritma? Integral? ah pelajaran cacing cacing itu. sudah, jangan dibahas. semakin mencengkram rasanya. tak kusadari roll aromaterapi sudah menggerayangi seluruh sisi kepala, leher, hingga ujung atas hidung. Salah satu kelebihan hidung pesek adalah memudahkan menggerakkan roll aromaterapi, loh. Hingga tak aku sadari seluruh wajah dan leher terasa panas tapi dingin. wow, sungguh menyakitkan tapi menyenangkan.

Setelah beberapa puluh menit badanku tergeletak di kasur asrama- dengan memakai seragam yang akhirnya kusut- aku merasa migrain sudah kehilangan cengkramannya di sisi kanan kepala. eh? apa kiri? entahlah, yang penting aku sudah sehat kembali. Aku melihat sudah pukul 15.00 dengan kondisi kamar sangat sepi. "sholat jamaah ashar nih" batinku. Karena hari ini aku mendapatkan "tamu"ku, dan ketika semua sedang di masjid, bisa menjadikan waktu yang tepat untuk kabur. IYA. KABUR.

kusegerakan merapikan jilbab di depan cermin dan langsung kuambil tas ranselku. semakin tua aku merasa ganti tas bukan lagi prioritas utama. tidak seperti waktu SD yang harus setiap tahun ganti. entah ganti warna. atau gambar. tas ranselku yang sekarang berukuran besar dan warnanya hitam kelam. hanya sedikit aksen merah darah di resletingnya. setidaknya masih wajar dipakai untuk perempuan.

aku memulai misi operasi kaburku. cukup gampang untuk kabur jika keberuntungan ada di pihakmu. kau hanya perlu melewati dua gerbang dengan satu petugas asrama dan satu petugas satpam disetiap gerbangnya. aku mulai berjalan santai melihat kondisi gerbang. tidak ada tanda-tanda satpam maupun petugas asrama. aman. satu gerbang terdalam telah terbuka namun gerbang terluar masih tertutup tanpa penjaga. aku mulai mendekat ke gerbang luar dan melihat sekekeliling yang begitu sepi. di samping gerbang terluar ini ada pos satpam yang sama sepinya. hanya tv yang menyala tanpa volume. aku memberanikan diri untuk membuka ganggang gerbang terluar. dengan perlahan dan pasti aku membuka dengan diiringi suara nyaring besi yang bergesekan. seperti sudah dibiarkan tidak diberi pelumas, demi memudahkan mengintai siapa saja yang berani masuk dan keluar. krek! oke! aku hanya perlu keluar dari lubang kecil gerbang dan menutup kembali gerbang. sebelum berbalik badan, aku melihat para ustadzah keluar dari masjid dan menuju gerbang. oke! kunci kabur adalah tetap tenang, dan menghilangkan rasa berdosa. walaupun itu dosa. aku membalikkan badan dengan santai dan langsung berbelok ke arah jalan raya. satu langkah, sepuluh langkah, aku berbalik. tidak ada yang mengikuti. misi berhasil !

tempat kabur favoritku adalah sebuah mall yang terletak dua blok dari sekolah berasrama. Mall tersebut cukup besar, namun tidak dengan barang bermerk seperti yang orang tuaku pilih. hanya supermarket dan beberapa kios yang tersebar 3 lantai. tidak ada bioskop, namun ada tempat bermain yang bisa menghabiskan uangmu dalam sekejap. tapi bukan itu tujuanku saat ini. aku mengincar toko buku!

pada saat sulit seperti ini, buku bacaan seperti novel akan menenangkanku sejenak dari ratusan soal yang menghadang untuk kenaikan kelas dan ujian asrama. berbicara tentang buku yang bisa dibaca, genre buku yang aku beli tidak jelas. kadang aku membeli karena warna dari cover, judul yang unik seperti "kambing jantan" ya siapa juga yang perlu tau itu kambing jantan atau betina? tapi kau akan penasaran, bukan? atau karena harganya yang murah dan berakhir dengan isi buku yang penuh dengan konten adegan dewasa yang eksotis.

hmmm banyak hmmm terjadi. jariku menari dan manari, melompat antar satu buku ke buku lainnya, bermanauver ria antar rak buku dan mendarat diantara buku diskon, tidak ingin terjebak dengan buku dewasa, akhirnya melompat kembali di deretan novel remaja. sekarang gerakan jariku kian melambat, menapak satu persatu buku, mencapitnya perlahan, dan mengembalikannya. hingga pada akhirnya, menemukan satu buku dengan cover berwarna hitam gelap, dengan bulan ditengahnya. Ada kata "Amerika" sebuah Negara adidaya yang mendengarkannya saja sudah langsung kagum. oke! dan akhirnya tarian jariku berakhir di dompet dengan lembaran uang disela-sela jemari. cekring!

apa aku membacanya malam ini?
kita lihat saja nanti.

Minggu, 09 September 2018

#part1NYC Allah kasih kami kesasar berbuah luar biasa

my first snow flakes. 3 hours to NYC

Allah kasih kita nyasar ke One World Trade Center 


"Jangan takut bermimpi, kalau perlu mimpiin aja sesuatu hal yang nggak mungkin. Pasti Allah kasih, setidaknyaa, mendekati ketidak mungkinan"

Aku lahir di keluarga yang tidak terlalu menuntut akan suatu pencapaian. Tetapi, selalu tidak puas apabila mendapatkan tempat kedua, atau ketiga, dan akan terlalu bersyukur hingga sedikit pamer jika mendapat pencapaian di tempat pertama. Rumit, bukan? Namaku Elin, ini ceritaku tentang Amerika, negara kedua yang pernah aku kunjungi selain Indonesia.

Malang, July 30th 2014
Hari ini kesekian kalinya aku pergi ke Matos sendirian. Ah, satpam-satpam itu memang mudah dikelabui. Pakaikan saja aku jaket dengan seragam madrasah berbatik hijau ini, masker terpasang, dan aku sudah sampai di matos. Matos adalah tempat singgah, ketemuan gebetan secara diam-diam, maupun hanya melepas penat karena remidi yang tak kunjung kelar. Aku punya kebiasaan aneh jika sudah masuk fase remidi yang bernilai remidi lagi, berjalan kaki dengan fikiran yang yahh bisa dibilang kosong. untung saja sampai saat ini belum ada yang menepuk pundak dan meminta sejumlah uang. Aku mulai berjalan menyusuri beberapa rak buku di gramedia dan menemukan beberapa deretan buku berlebel best seller. Mataku langsung tertuju pada novel dengan kata Amerika.
"ah, Amerika? pasti seru"
sekilas mengambil dan menaruh kembali ke rak. Setelah berjalan menuju rak buku lain, membeli ai ci ro, mcflurry topping oreo, aku kembali ke asrama. Benar adanya, aku kaget setelah melihat isi tasku yang ternyata aku membeli buku dengan kata "Amerika"
"lah?"
aku baru sadar, ah kebiasaan.
mana boleh buat, sudah terlanjur beli, sayang kalau nggak dibaca. Malam ini juga aku menghabiskan sekitar 350an halaman. Long short story, aku sangat kagum dengan pembawaan kata mbak Hanum dalam mendeskripsikan bagaimana itu Amerika, bagaimana kejadian 11 November dan efeknya terhadap kaum muslim di Amerika. Aku membuka halaman lampiran dimana terdapat foto-foto daerah New York, Museum peringatan 11 November, Sudut kota New York, dan beberapa scene yang diceritakan dalam novel.
"ohh, masyaAllah, gini ya Amerika?" kataku sambil melihat foto hitam-putih.
aku membuka halaman paling belakang, tanpa banyak pikir aku mengambil pulpen berwarna biru dan dengan membaca basmallah aku menulis..
"ya Allah, Elin pingin ke Amerika.. Elin pingin tau gimana sih orang muslim disana, izinkan Elin buat pergi kesana yaa.. lihat gedung peringatan 11 November World Trade Center pasti seru.. aamiinn"
kemudian aku simpan buku itu ditengah-tengah buku mata pelajaran lainnya.

New York, March 13th 2018.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, samudera, langit dan air







Alhamdulillah, Qodarullah, Elin bisa kesampaian juga ke daerah "mantan" World Trade Center. FYI ini ada 101 lantai, dimana kalian hanya bisa berada di lantai entrance terus langsung deh ke lantai 100, dan kalian hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 menit untuk ke lantai 100. Gila ga sih? ohiya, ini sebenernya bukan WTC asli, hanya saja bangunan ini adalah museum peringatan 11 November dan diberi nama One World Observatory Center. 
Cerita lucu kenapa aku bisa sampai ke tempat ini adalah.. aku nyasar rek. serius, nyasar.
Tetiba aja kita yang awalnya mau ke Brooklyn Bridge jadinya kesini, Allah memang superrrr.